Sabtu, 21 Juni 2014

Pangeran Bintang *1



Semula aku tak mengerti dengan semua perasaan ini. Tiba-tiba ada rindu yang menyelinap dilubuk hatiku untuk seseorang. Kau tahu siapa orang itu? Aku pun sebenarnya tak begitu banyak mengetahui tentangnya. Hanya lewat dinding-dinding maya aku mengetahui tentangnya. Tidak lebih!!

Sebenarnya, mungkin dahulu aku pernah bertemu dengannya, tetapi hanya sebatas tahu. Tapi lewat dinding-dinding maya aku mulai tahu dan mengenalnya. Dari mengenalnya yang hanya lewat sebuah dinding maya tiba-tiba ada rasa rindu yang menyelinap untuknya. Rasa rindu yang tiba-tiba hadir ketika dia belum hadir kembali menulis indah diayat-ayat dindingnya. Aku sungguh merindukannya.

Aku menyebutnya pangeran bintang. Mungkin karena aku menyukai bintang. Aku rasa nama bintang cukup berarti ketika aku sematkan untuknya. Karena bintang bisa menyinari disetiap gelapnya dunia. Mungkin begitu juga dia. Dia sungguh memukauku disetiap sudut tulisannya didinding mayanya. Secara tidak langsung aku mulai menjadi pengangumnya. Walau sebenarnya yang pantas untuk dikagumi itu adalah nabi besar kita Muhammad SAW. Tapi aku kira Alloh mengerti aku  tak sadarkan diri hingga aku terkagum padanya.

Pangeran bintang!! Apa kabarmu? Akh kalimat usang yang akan aku tanyakan padamu?? Tapi tidak tahu kenapa aku tidak berani berkata kepadamu. Entah ada hal apa, tapi yang jelas aku tidak ingin merusak indahnya dinding mayamu. Kau tahu pangeran bintang, setiap aku merindukanmu aku hanya berani memandangi fotomu dan membaca ayat-ayat dindingmu karena tak cukup nyali aku bersapa padamu. Walau dulu kita sering bersapa.

Pangeran bintang. Apakah kau tahu caranya menahan sebuah rindu?? Jika kau tahu beritahu aku. Aku menemukan caranya ketika rindu itu datang disamping membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan bersujud ditengah malam adalah dengan melihat dinding-dinding mayamu dan menulis sebuah puisi untukmu.

Kau tahu rasa rindu itu tidaklah hidup, rasa rindu itu bukan sebuah makhluk jadi ketika rasa rindu itu datang entah bagaimanapun tidak bisa dimusnahkan. Rindu yang secara tak sopan memasuki ruang bawah sadarku sehingga sering aku bermimpi tentangmu. Dan memikirkanmu membuat rasa rindu itu terus tertimbun dibawah alam sadarku.

Aku berharap kau kembali menghias ayat-ayat indah didinding mayamu agar aku mampu melunakkan rasa rindu ini dan membuatku berfikir kamu baik-baik saja.

Kediri, 190614
11:50 am

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

eits jangan lupa ya komentarnya
*Green Star*