Kamis, 03 Juli 2014

Pangeran Bintang *7


Lalu aku berkata, aku belum bisa menulis untukmu. Iya, aku sebenarnya tidak ingin menulis. Kenapa aku menulis? Karena aku bertengkar dengan hatiku, dan hatiku menang, agar aku menulis untukmu, agar aku tidak merasa sendiri merasakan ini, agar dinding maya bisa menjadi sahabatku.
 
Sebenarnya rasa rindu ini belum hilang tapi kau tahu pangeran bintang. Aku berfikir lama kenapa aku harus menyukaimu. Berharap akhir-akhir ini aku menemukan jawabannya. Dan aku kira aku belum bisa mendapatkan jawaban itu. Setiap kepingan kerinduanku padamu, hanya slide foto dan kisah didinding mayamu selalu aku buka. Disetiap aku membaca dinding mayamu aku merasa, lebih baik dulu aku tak mengenalmu, dan lebih baik sikap acuh dan cuekku bangkit agar kita terterlalu dalam berkomunikasi denganmu. Sungguh ini menggangguku. Kau tahu apa yang aku fikirkan? Lagi-lagi aku berfikir keras untukmu dan ingin mundur tidak menyukaimu berharap aku yang menang dari hatiku.

Setiap aku membaca dindingmu, aku selalu ingin mundur tak ingin merindu. Ya, mungkin itu salah satu agar aku tak merindu denganmu. Walau sebenarnya melihat dindingmu pengobat rindu. Lagi-lagi aku teringat ibu. Lalu aku menceritakan tentangmu padanya. Berharap aku bisa menjawab semua pertanyaan ibu. Tapi dari sekarang aku belum bisa menemukan jawaban itu. Apa lebih baik aku berhenti untuk merindukanmu dan membohongi hatiku bahwa aku tidak menyukaimu. Dan mungkin aku akan membicarakan kepada ibu bahwa itu hanya mimpi. Akh, benar-benar membuatku lelah. Terlalu konyol kisahku ini. Dan jika benar itu yang harus aku katakan kepada ibu, aku tidak mau. Hatiku harus meyakinkan kepada aku bahwa aku benar menyukaimu.

Jika aku tahu ini begini, jika aku tahu rasa ini menikam rindu yang paling dalam mungkin aku dulu akan membatasi pertemanan denganmu. Hah.. Kau tiba-tiba datang membawa sejuta senyum untukku, memberiku berbagai inspirasi dan ilmu, menerangi pengetahuanku tentang agama yang kurang, mengacuhkan setiap ilmu yang kau berikan, tapi kau tetap bersikap sabar dan menenangkanku. Kau begitu dalam mengisi hatiku membuatku merasa lemah untuk tidak menyukaimu dan merindukanmu. Dan setelah semua perhatianmu padaku kau berikan, kau menghilang tanpa ucapan dan bahkan merasa tidak mengenalku. Apakah aku harus mengartikan semua ini? Iya, bahwa setiap pertemuan juga ada perpisahan, jika ku tahu sedari awal begini. Cukup say hai untukmu saja sudah cukup titik.

Rasanya dengan semua ini aku juga tidak menyesal. Bahkan aku berterima kasih kepada Alloh, mengajarkan sesuatu yang tidak ada dibuku. Mengalami dan mensyukuri semua yang diberikan. Bersabar atas semua kehendak Alloh. Dan aku yakin pasti ada keajaiban kecil menungguku disana. Bahkan dari ini aku bisa belajar bersabar, menahan rasa rindu. Menunggu ridho yang diberikan Alloh. Bahwa ada bintang disana.

Ya Rahman, benar hatiku masih merindu. Namanya selalu ada dipuncak doaku. Semakin hari aku semakin menyukainya. Semakin hari aku bisa berlatih sabar istiqomah, menahan rindu. Semakin hari aku belajar membiarkan hatiku agar bisa melupa. Semakin hari aku belajar bersyukur kepadaMu. Ya Rahman, masihkah aku tidak bersyukur padaMu, “maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Semoga dia hadir didinding maya membawa penyejuk rindu.
Marhaban Ya Ramadhan



Kediri, 020714
23:29 pm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

eits jangan lupa ya komentarnya
*Green Star*