Lalu
aku berkata, aku belum bisa menulis untukmu. Iya, aku sebenarnya tidak ingin
menulis. Kenapa aku menulis? Karena aku bertengkar dengan hatiku, dan hatiku
menang, agar aku menulis untukmu, agar aku tidak merasa sendiri merasakan ini,
agar dinding maya bisa menjadi sahabatku.
Sebenarnya
rasa rindu ini belum hilang tapi kau tahu pangeran bintang. Aku berfikir lama
kenapa aku harus menyukaimu. Berharap akhir-akhir ini aku menemukan jawabannya.
Dan aku kira aku belum bisa mendapatkan jawaban itu. Setiap kepingan kerinduanku
padamu, hanya slide foto dan kisah didinding mayamu selalu aku buka. Disetiap aku
membaca dinding mayamu aku merasa, lebih baik dulu aku tak mengenalmu, dan lebih baik sikap acuh dan cuekku bangkit agar kita terterlalu dalam berkomunikasi denganmu. Sungguh ini menggangguku. Kau
tahu apa yang aku fikirkan? Lagi-lagi aku berfikir keras untukmu dan ingin
mundur tidak menyukaimu berharap aku yang menang dari hatiku.
Setiap
aku membaca dindingmu, aku selalu ingin mundur tak ingin merindu. Ya, mungkin
itu salah satu agar aku tak merindu denganmu. Walau sebenarnya melihat
dindingmu pengobat rindu. Lagi-lagi aku teringat ibu. Lalu aku menceritakan
tentangmu padanya. Berharap aku bisa menjawab semua pertanyaan ibu. Tapi dari
sekarang aku belum bisa menemukan jawaban itu. Apa lebih baik aku berhenti
untuk merindukanmu dan membohongi hatiku bahwa aku tidak menyukaimu. Dan
mungkin aku akan membicarakan kepada ibu bahwa itu hanya mimpi. Akh,
benar-benar membuatku lelah. Terlalu konyol kisahku ini. Dan jika benar itu
yang harus aku katakan kepada ibu, aku tidak mau. Hatiku harus meyakinkan
kepada aku bahwa aku benar menyukaimu.
Jika
aku tahu ini begini, jika aku tahu rasa ini menikam rindu yang paling dalam
mungkin aku dulu akan membatasi pertemanan denganmu. Hah.. Kau tiba-tiba datang
membawa sejuta senyum untukku, memberiku berbagai inspirasi dan ilmu, menerangi
pengetahuanku tentang agama yang kurang, mengacuhkan setiap ilmu yang kau berikan,
tapi kau tetap bersikap sabar dan menenangkanku. Kau begitu dalam mengisi
hatiku membuatku merasa lemah untuk tidak menyukaimu dan merindukanmu. Dan setelah
semua perhatianmu padaku kau berikan, kau menghilang tanpa ucapan dan bahkan
merasa tidak mengenalku. Apakah aku harus mengartikan semua ini? Iya, bahwa setiap
pertemuan juga ada perpisahan, jika ku tahu sedari awal begini. Cukup say hai
untukmu saja sudah cukup titik.
Rasanya
dengan semua ini aku juga tidak menyesal. Bahkan aku berterima kasih kepada
Alloh, mengajarkan sesuatu yang tidak ada dibuku. Mengalami dan mensyukuri semua
yang diberikan. Bersabar atas semua kehendak Alloh. Dan aku yakin pasti ada
keajaiban kecil menungguku disana. Bahkan dari ini aku bisa belajar bersabar,
menahan rasa rindu. Menunggu ridho yang diberikan Alloh. Bahwa ada bintang disana.
Ya
Rahman, benar hatiku masih merindu. Namanya selalu ada dipuncak doaku. Semakin hari
aku semakin menyukainya. Semakin hari aku bisa berlatih sabar istiqomah,
menahan rindu. Semakin hari aku belajar membiarkan hatiku agar bisa melupa. Semakin
hari aku belajar bersyukur kepadaMu. Ya Rahman, masihkah aku tidak bersyukur
padaMu, “maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"
Semoga
dia hadir didinding maya membawa penyejuk rindu.
Marhaban
Ya Ramadhan
Kediri,
020714
23:29
pm

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
eits jangan lupa ya komentarnya
*Green Star*