Selasa, 24 Juni 2014

Pangeran Bintang *5



Dan malam ini aku menulis lagi didinding mayaku untukmu pangeran bintang. Tadi hujan mengguyur kotaku. Bagaimana dengan kotamu? Jalan yang kering sekarang terbasahi air hujan dan membuat sejuk dihati. Hujan membuatku tambah merindukanmu. Merindukan bintang langit juga. Apakah kita sama malam ini, sama-sama juga menunggu bintang langit muncul. Sungguh semoga kita melihat langit yang sama.
 
Pangeran bintang, hari ini aku memberanikan diri bercerita tentangmu kepada ibuku. Bahwa aku menyukaimu, merindukanmu. Tapi aku tidak bisa menjelaskan siapa kamu sedetailnya. Aku hanya bisa berucap aku sungguh merindukanmu. Tapi setiap ucapanku tidak mengindahkan aku untuk membujuk ibuku untuk menyetujui hatiku. Karena aku yakin perlahan-lahan ibuku akan mengerti maksudku. Dan ibuku hanya diam, tapi tak lama ibuku juga berucap bahwa jodoh semuanya yang mengatur Alloh. Memang tak bisa dipungkuri ada gerut wajah ibuku yang masih bingung. Mengapa aku bisa menyukaimu? Mengapa dengan dirimu? Padahal disini juga masih banyak orang yang baik dan sholeh sepertimu. Tapi yang namanya hati. Ada Maha yang membolak-baikkan hati. Maha pencipta hati, Maha segala-galanya dan semua itu adalah Alloh. Tapi tenanglah pangeran bintang perlahan-lahan guratan kebingungan ibu juga akan menyetujui kenapa aku harus menyukaimu. Perlahan-lahan akan ada persepsi sama antara aku dan ibuku. Tapi waktu ini ibuku sudah meyetujui hatiku untuk merindukanmu.

Rindu ini semakin besar ketika aku menghirup udara segar malam hari sehabis hujan. Aku jadi mengingat kita dulu. Yang bersapa hanya lewat dinding-dinding maya. Ditempat perantauan kita masing-masing. Menceritakan kisah di tanah masing-masing. Dulu kita memang tidak satu tanah, tapi kita satu langit. Memang kita tidak satu adat, tapi kita satu bahasa. Kau ditanah suci sedangkan aku ditanah Jawa. Kau merasakan bahagia seperti yang kau ceritakan. Kau mempunyai Gurun, Laut Merah yang bisa menjadi temanmu. Dari dinding-dinding mayamu aku bisa menangkap begitu bahagianya dirimu, begitu bebasnya dirimu. Darimu aku bisa mendengar cerita tentang tanah sana, darimu aku bisa tahu bahwa disana orang-orang sangat menghormati dan tidak ada tutur kata yang buruk, begitu damai dan banyak cerita lagi yang tidak bisa kau ungkapkan sehingga membuatmu bahagia.
Kau tahu pangeran bintang, banyak temanku juga berada didekat tempatmu walau berbeda benua tapi sama-sama tanah nabi. Yang juga sama menceritakan begitu bahagianya mereka disana. Dan aku masih ingat kau juga ingin kembali kesana untuk merantau kembali. Tapi kita tidak tahu jalan hidup kitakan karena semua sudah ada yang mengatur. Bahwa kau juga pernah bilang jangan mimpi tapi impian. Semoga smua impianmu terwujud pangeran bintang. Tersenyumlah.

Pangeran bintang tanpa sengaja aku sedikit bercerita tentangmu kepada temanku. Karena temanku juga mempunyai teman yang berada ditempat yang hampir sama dengamu. Kau tahu mereka menceritakan hal yang indah-indah. Dan aku yang begitu antusiasnya tanpa sengaja menceritakan tentangmu seolah-olah mereka menganggap aku begitu mengagumimu. Padahal memang benar aku mengagumimu dan juga merindukanmu. Benar-benar itu hati yang bicara.

Pangeran bintang

Pangeran bintang, mungkin aku terlalu berlebihan. Dan mungkin aku sedikit lupa bahwa kau sudah pulang dari berkelana dari tanah nabi. Dan pastinya banyak wanita sholehah mengantri untuk kau pinang. Atau orang tuamu sudah memilihkan calon istri yang sholehah dan hafidzah. Oh Ya Robb memang benar, dia pantas mendapatkan seseorang seperti itu dan bukan aku. Siapalah aku? Kata “siapa aku” selalu aku ulang agar mempertegas diriku bahwa aku bukan siapa-siapa dibanding perempuan-perempuan itu. Dalam hati aku cuman berdoa, setiap doa tanpa sengaja atau tidak selalu kusebut namamu. Karena disetiap doa ada kerinduan tentangmu. Bahkan kerinduan itu membuat setiap malam selesai sujud aku harus menyisahkan tidurku untuk memimpikanmu. Benar-benar merindukanmu bisa mendorong dirimu masuk dalam alam bawah sadarku. Dan Alloh yang akan meyakinkan aku dan menunjukkan jalan bahwa kita esok berjodoh atau tidak. Tapi sekarang aku sungguh merasa dekat denganmu walau aku hanya tahu dirimu lewat dinding maya.

Memang indah begini, memang aku suka begini mungkin juga kau. Rasa ini biarkan begini. Jalan ini biarlah begini. Biarkan aku melihatmu lewat dinding maya saja. Biarkan aku mengetahuimu begini. Karena lebih indah begini. Dan sungguh indah begini. Dan yang kau katakan tentang keindahan masih aku ingat. Tanpa kita harus tahu, begini saja sudah menghibur, keindahan datang, tidak perlu yang lainnyakan?? Dan lebih baik tidak ingat tentang dahulukan. Karena sekarang sudah indah. Karena kau tidak suka mengingat yang dulu yang bahkan memang seharusnya tidak diingat.

Masih sama, kalaupun tetap begitu aku masih sama aku merindukanmu.


Kediri, 240614
21:32 pm

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

eits jangan lupa ya komentarnya
*Green Star*