Dan malam ini aku menulis lagi didinding
mayaku untukmu pangeran bintang. Tadi hujan mengguyur kotaku. Bagaimana dengan
kotamu? Jalan yang kering sekarang terbasahi air hujan dan membuat sejuk dihati.
Hujan membuatku tambah merindukanmu. Merindukan bintang langit juga. Apakah kita
sama malam ini, sama-sama juga menunggu bintang langit muncul. Sungguh semoga
kita melihat langit yang sama.
Pangeran bintang, hari ini aku memberanikan
diri bercerita tentangmu kepada ibuku. Bahwa aku menyukaimu, merindukanmu. Tapi
aku tidak bisa menjelaskan siapa kamu sedetailnya. Aku hanya bisa berucap aku
sungguh merindukanmu. Tapi setiap ucapanku tidak mengindahkan aku untuk
membujuk ibuku untuk menyetujui hatiku. Karena aku yakin perlahan-lahan ibuku
akan mengerti maksudku. Dan ibuku hanya diam, tapi tak lama ibuku juga berucap
bahwa jodoh semuanya yang mengatur Alloh. Memang tak bisa dipungkuri ada gerut
wajah ibuku yang masih bingung. Mengapa aku bisa menyukaimu? Mengapa dengan
dirimu? Padahal disini juga masih banyak orang yang baik dan sholeh sepertimu. Tapi
yang namanya hati. Ada Maha yang membolak-baikkan hati. Maha pencipta hati,
Maha segala-galanya dan semua itu adalah Alloh. Tapi tenanglah pangeran bintang
perlahan-lahan guratan kebingungan ibu juga akan menyetujui kenapa aku harus
menyukaimu. Perlahan-lahan akan ada persepsi sama antara aku dan ibuku. Tapi
waktu ini ibuku sudah meyetujui hatiku untuk merindukanmu.
Rindu ini semakin besar ketika aku menghirup
udara segar malam hari sehabis hujan. Aku jadi mengingat kita dulu. Yang bersapa
hanya lewat dinding-dinding maya. Ditempat perantauan kita masing-masing. Menceritakan
kisah di tanah masing-masing. Dulu kita memang tidak satu tanah, tapi kita satu
langit. Memang kita tidak satu adat, tapi kita satu bahasa. Kau ditanah suci
sedangkan aku ditanah Jawa. Kau merasakan bahagia seperti yang kau ceritakan. Kau
mempunyai Gurun, Laut Merah yang bisa menjadi temanmu. Dari dinding-dinding
mayamu aku bisa menangkap begitu bahagianya dirimu, begitu bebasnya dirimu. Darimu
aku bisa mendengar cerita tentang tanah sana, darimu aku bisa tahu bahwa disana
orang-orang sangat menghormati dan tidak ada tutur kata yang buruk, begitu
damai dan banyak cerita lagi yang tidak bisa kau ungkapkan sehingga membuatmu
bahagia.
Kau tahu pangeran bintang, banyak temanku
juga berada didekat tempatmu walau berbeda benua tapi sama-sama tanah nabi. Yang
juga sama menceritakan begitu bahagianya mereka disana. Dan aku masih ingat kau
juga ingin kembali kesana untuk merantau kembali. Tapi kita tidak tahu jalan
hidup kitakan karena semua sudah ada yang mengatur. Bahwa kau juga pernah
bilang jangan mimpi tapi impian. Semoga smua impianmu terwujud pangeran
bintang. Tersenyumlah.
Pangeran bintang tanpa sengaja aku sedikit
bercerita tentangmu kepada temanku. Karena temanku juga mempunyai teman yang
berada ditempat yang hampir sama dengamu. Kau tahu mereka menceritakan hal yang
indah-indah. Dan aku yang begitu antusiasnya tanpa sengaja menceritakan
tentangmu seolah-olah mereka menganggap aku begitu mengagumimu. Padahal memang
benar aku mengagumimu dan juga merindukanmu. Benar-benar itu hati yang bicara.
Pangeran bintang
Pangeran bintang, mungkin aku terlalu
berlebihan. Dan mungkin aku sedikit lupa bahwa kau sudah pulang dari berkelana
dari tanah nabi. Dan pastinya banyak wanita sholehah mengantri untuk kau
pinang. Atau orang tuamu sudah memilihkan calon istri yang sholehah dan hafidzah.
Oh Ya Robb memang benar, dia pantas mendapatkan seseorang seperti itu dan bukan
aku. Siapalah aku? Kata “siapa aku” selalu aku ulang agar mempertegas diriku
bahwa aku bukan siapa-siapa dibanding perempuan-perempuan itu. Dalam hati aku
cuman berdoa, setiap doa tanpa sengaja atau tidak selalu kusebut namamu. Karena
disetiap doa ada kerinduan tentangmu. Bahkan kerinduan itu membuat setiap malam selesai sujud
aku harus menyisahkan tidurku untuk memimpikanmu. Benar-benar merindukanmu bisa
mendorong dirimu masuk dalam alam bawah sadarku. Dan Alloh yang akan meyakinkan
aku dan menunjukkan jalan bahwa kita esok berjodoh atau tidak. Tapi sekarang
aku sungguh merasa dekat denganmu walau aku hanya tahu dirimu lewat dinding
maya.
Memang indah begini, memang aku suka begini
mungkin juga kau. Rasa ini biarkan begini. Jalan ini biarlah begini. Biarkan
aku melihatmu lewat dinding maya saja. Biarkan aku mengetahuimu begini. Karena lebih
indah begini. Dan sungguh indah begini. Dan yang kau katakan tentang keindahan
masih aku ingat. Tanpa kita harus tahu, begini saja sudah menghibur, keindahan
datang, tidak perlu yang lainnyakan?? Dan lebih baik tidak ingat tentang dahulukan.
Karena sekarang sudah indah. Karena kau tidak suka mengingat yang dulu yang
bahkan memang seharusnya tidak diingat.
Masih sama, kalaupun tetap begitu aku masih
sama aku merindukanmu.
Kediri, 240614
21:32 pm

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
eits jangan lupa ya komentarnya
*Green Star*