Sabtu, 21 Juni 2014

Pangeran Bintang *3



Malam ini aku sebenarnya tidak ingin menulis. Ingin aku umbar rasa rinduku yang dalam kepadamu pangeran bintang. Terkadang aku sungguh lelah, tapi rindu sungguh tidak bisa terlihat tapi melekat disetiap momen. Dan itu sungguh menyiksa. Tetapi membuat jari-jariku menulis merangkai kata untukmu didinding-dinding maya.

Ada apa denganmu pangeran bintang? Kenapa tidak ada ayat-ayat indah dalam didinding mayamu? Semoga kau baik-baik saja dan melakukan aktivitas seperti biasanya. Semenjak aku pulang merantau mencari ilmu dan berada di kota ini. Aku sungguh merasa mendapatkan sebuah kerinduan yang lebih untukmu. Harusnya aku dulu tersadar bahwa kau orang yang aku rindu.

Aku tidak tahu tiba-tiba disetiap doa selalu namamu selalu kusebut, begitu yakinnya diriku bisa bertemu denganmu dan kita berjodoh. Akh, aku terlalu berlebihan tetapi namamu selalu kusebuat disetiap doa. Entah kita berjodoh atau tidak, entah bagaimana akhir cerita ini aku sungguh merindukanmu dan hanya Alloh yang tahu.

Disetiap kerinduan terkadang aku mendengarkan musik sendu mengalun rindu, bagaimana hukum islam jika aku harus mendengarkan musik seperti itu? Itu salah satu pertanyaan jika aku bisa ngombrol kembali denganmu. Aku suka ketika aku harus bertanya tentang apapun dan bagaimana pandangan islam dan kau menjawab dengan menjabarkan perincian satu persatu dan membuatku paham. Entah kau kembali membuka buku-buku tebal yang kau baca. Tapi setidaknya ilmu yang kau miliki aku bisa merasakan. Dan aku juga suka ketika kau bertanya kembali kepadaku bagaimana menurut padangan ahli-ahli eropa bidang psikologi?? Rasanya aku sungguh suka karena aku bisa berbagi denganmu dan terkadang harus kubuka buku-buku tebal berbahasa asing dirak almari. Aku rindu itu!!

Dinding-dinding maya yang selama ini tak kau singgahi mungkin banyak orang yang sering membuka hanya sekedar ingin tahu kau hadir kembali mengisi ayat-ayat indah atau sekedar mengganti foto atau tidak. Kemana kau perginya pangeran bintang?

Malam ini di kotaku suasana udaranya tidak terlalu dingin dan tidak seperti hari-hari kemarin yang hujan deras. Sehingga aku bisa keluar rumah dan menghadap langit dan bisa melihat sedikit bintang diatas sana. Dan aku merasakan angin yang berjalan diwajahku. Ingin aku genggam angin itu seperti halnya rinduku padamu tetapi apa daya aku tak bisa bahkan mungkin tidak hanya aku tetapi semua orang.

Pangeran bintang apa kau merasakan hal yang sama denganku? Rasa rindu!! Tapi aku fikir kau mungkin merasakan rindu untuk seseorang yang berharga dalam hidupmu dan itu bukan termasuk aku. Siapalah aku? Aku hanya orang yang pernah hadir dan berjalan melewati pintu hatimu dan menyapamu ‘hai”. Mana mungkin kau bisa ingat denganku, mana mungkin kau menyapaku bahkan mana mungkin kau merasakan rindu untukku. Tapi karena aku mengagumimu, bagiku itu tidaklah penting. Hanya bagaimana aku harus menata rasa rindu diruang yang sempit ini.

Tersenyumlah kembali pangeran bintang dan hiasi ayat-ayat indah didinding-dinding mayamu.

Kau tahu pangeran bintang , sebelum aku menutup mata untuk tidur, sebelum aku bersujud ditengah malam. Aku selalu menata ulang rindu yang bercampur aduk dihati ini. Iya, dengan menulis ini aku bisa menumpahkannya. Dan selalu aku ulang dengan cerita kepada Maha pemilik hidup ini. Di setiap doa selalu tak terlupa namamu. Oo.. sengaja atau tidak namamu selalu ada disetiap doaku. Tapi rasanya seperti sudah di setting untuk mengucapkan itu hee. Oh Pangeran bintang.

Semoga malam ini menghantarkan aku dan kau menuju pagi yang indah.

Kediri, 200614
0:15 am

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

eits jangan lupa ya komentarnya
*Green Star*