Malam ini aku sebenarnya tidak ingin menulis.
Ingin aku umbar rasa rinduku yang dalam kepadamu pangeran bintang. Terkadang
aku sungguh lelah, tapi rindu sungguh tidak bisa terlihat tapi melekat disetiap
momen. Dan itu sungguh menyiksa. Tetapi membuat jari-jariku menulis merangkai
kata untukmu didinding-dinding maya.
Ada apa denganmu pangeran bintang? Kenapa
tidak ada ayat-ayat indah dalam didinding mayamu? Semoga kau baik-baik saja dan
melakukan aktivitas seperti biasanya. Semenjak aku pulang merantau mencari ilmu
dan berada di kota ini. Aku sungguh merasa mendapatkan sebuah kerinduan yang
lebih untukmu. Harusnya aku dulu tersadar bahwa kau orang yang aku rindu.
Aku tidak tahu tiba-tiba disetiap doa selalu
namamu selalu kusebut, begitu yakinnya diriku bisa bertemu denganmu dan kita
berjodoh. Akh, aku terlalu berlebihan tetapi namamu selalu kusebuat disetiap
doa. Entah kita berjodoh atau tidak, entah bagaimana akhir cerita ini aku
sungguh merindukanmu dan hanya Alloh yang tahu.
Disetiap kerinduan terkadang aku mendengarkan
musik sendu mengalun rindu, bagaimana hukum islam jika aku harus mendengarkan
musik seperti itu? Itu salah satu pertanyaan jika aku bisa ngombrol kembali
denganmu. Aku suka ketika aku harus bertanya tentang apapun dan bagaimana
pandangan islam dan kau menjawab dengan menjabarkan perincian satu persatu dan
membuatku paham. Entah kau kembali membuka buku-buku tebal yang kau baca. Tapi
setidaknya ilmu yang kau miliki aku bisa merasakan. Dan aku juga suka ketika
kau bertanya kembali kepadaku bagaimana menurut padangan ahli-ahli eropa bidang
psikologi?? Rasanya aku sungguh suka karena aku bisa berbagi denganmu dan
terkadang harus kubuka buku-buku tebal berbahasa asing dirak almari. Aku rindu
itu!!
Dinding-dinding maya yang selama ini tak kau
singgahi mungkin banyak orang yang sering membuka hanya sekedar ingin tahu kau
hadir kembali mengisi ayat-ayat indah atau sekedar mengganti foto atau tidak.
Kemana kau perginya pangeran bintang?
Malam ini di kotaku suasana udaranya tidak
terlalu dingin dan tidak seperti hari-hari kemarin yang hujan deras. Sehingga
aku bisa keluar rumah dan menghadap langit dan bisa melihat sedikit bintang
diatas sana. Dan aku merasakan angin yang berjalan diwajahku. Ingin aku genggam
angin itu seperti halnya rinduku padamu tetapi apa daya aku tak bisa bahkan
mungkin tidak hanya aku tetapi semua orang.
Pangeran bintang apa kau merasakan hal yang
sama denganku? Rasa rindu!! Tapi aku fikir kau mungkin merasakan rindu untuk
seseorang yang berharga dalam hidupmu dan itu bukan termasuk aku. Siapalah aku?
Aku hanya orang yang pernah hadir dan berjalan melewati pintu hatimu dan
menyapamu ‘hai”. Mana mungkin kau bisa ingat denganku, mana mungkin kau
menyapaku bahkan mana mungkin kau merasakan rindu untukku. Tapi karena aku
mengagumimu, bagiku itu tidaklah penting. Hanya bagaimana aku harus menata rasa
rindu diruang yang sempit ini.
Tersenyumlah kembali pangeran bintang dan
hiasi ayat-ayat indah didinding-dinding mayamu.
Kau tahu pangeran bintang , sebelum aku menutup
mata untuk tidur, sebelum aku bersujud ditengah malam. Aku selalu menata ulang
rindu yang bercampur aduk dihati ini. Iya, dengan menulis ini aku bisa
menumpahkannya. Dan selalu aku ulang dengan cerita kepada Maha pemilik hidup
ini. Di setiap doa selalu tak terlupa namamu. Oo.. sengaja atau tidak namamu
selalu ada disetiap doaku. Tapi rasanya seperti sudah di setting untuk
mengucapkan itu hee. Oh Pangeran bintang.
Semoga malam ini menghantarkan aku dan kau
menuju pagi yang indah.
Kediri, 200614
0:15 am

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
eits jangan lupa ya komentarnya
*Green Star*